05 September 2014

Bayi ASI & Alergi (part 2/2)

Kadang-kadang, bayi tidak mengalami reaksi alergi hebat yang membahayakan hidupnya, saat pertama kali ia diberi makanan bayi tertentu. Namun, bila timbul bentol-bentol merah dan gatal di seluruh tubuh, mulut, leher dan lidahnya membengkak sehingga sulit bernafas, carilah segera bantuan medis. Jika perlu, berikan pertolongan pertama. Reaksi ini dianggap berkaitan erat dengan makanan yang membuat bayi peka, baik saat dalam kandungan maupun selama di beri ASI. Karena itu, janganlah sekali-sekali memberi bayi atau anak anda makanan yang membahayakan tersebut meskipun hanya untuk dicicipi. Bila kelak anda ingin mengenalkan makanan tersebut, lakukan di bawah pengawasan dokter.
 
Jika keluarga anda pernah terkena alergi, mungkin anda perlu mengurangi jenis makanan tertentu untuk bayi anda. Hal ini tentu saja dapat menghilangkan banyak nutrisi dari makanannya. Berkonsultasilah dulu dengan dokter anak yang akan memberi nasihat tentang jenis nutrisi yang dibutuhkan bayi anda selama masa penyapihan.

Mencegah Alergi

Langkah-langkah berikut membantu mecegah bayi alergi:
  • - Masa bahaya terhadap kepekaan adalah empat sampai enam bulan pertama, jadi tundalah penyapihan dan teruskan memberi ASI atau susu formula selama masa ini. Bayi anda akan mendapat semua nutrisi yang dibutuhkan dari ASI atau susu formula sampai usianya enam bulan.
  • - Selama memberi ASI anda pun harus berhati-hati terhadap makanan yang berpotensi menimbulkan alergi, untuk menghindarkan bayi dari alergi melalui ASI.
  • - Perkenalkan bayi pada makanan padat satu demi satu. Beri jarak waktu beberapa hari untik setiap jenis makanan baru agar anda dapat mengeceknya bila suatu reaksi alergi.
  • - Jika aleri mengenai keluarga anda, perhatikan saat pengenalan selai kacang dan makanan lain dari kacang.
  • - Hindari bayi dari bahan-bahan yang dapat menimbulkan alergi, seperti asap, rokok, debu ruam, sebuk sari, dan binatang piaraan.

Formula Khusus

Jika bayi anda alergi terhadap susu sapi dan anda tidak dapat memberinya ASI, coba gunakan susu bayi dari kacang kedelai. Susu ini juga diberikan pada bayi yang tidak tahan terhadap laktosa. Sayangnya, kedelai sendiri jadi pencetus alergi. Selama masa penyapihan, susu kacang kedelai dapat diberikan sebagai minuman dalam cangkir.
  • - Susu formula dari kacang kedelai mengandung gula bukan dari susu. Waspadalah kesehatan gigi bayi dan jangan berikan susu dalam botol setelah usianya satu tahun. Hindari pemberian susu formula diantara waktu makan dan waktu tidur.
  • - Susu kedelai biasanya (bukan susu kedelai bayi), tidak boleh diberikan pada bayi yang sedang disapih karena tidak mengandung cukup kalori, vitamin, dan kalsium
  • - Ada pula susu bayi yang menggunakan protein susu sapi yang telah dimodifikasi secara khusus untuk bayi yang punya kecenderungan alergi.
  • - Susu domba atau kambing terkadang dianggap kurang menimbulkan alergi. Namun belum ada bukti ilmiah tentang hal ini. Dalam keadaan apapun, sebaiknya jangan berikan susu ini pada bayi di bawah usia satu tahun karena susu ini tidak mengandung cukup nutrisi penting seperti Vitamin A, D, asam folat dan zat besi

29 August 2014

Bayi ASI & Alergi (part 1/2)

Alergi adalah reaksi imunitas tubuh yang berlebihan terhadap suatu bahan. Imunitas tubuh kita seharusnya bekerja untuk melindungi tubuh kita dari bahaya,seperti virus, bakteri, atau jamur, namun, pada individu yang alergi, tubuh bereaksi pula terhadap bahan yang tidak berbahaya, seperti protein ikan, susu sapi, debu, cuaca, dengan respon yang berlebihan. Alergi sangat dipengaruhi oleh faktor keturunan, yaitu anak dari orang tua yang memiliki riwayat alergi memiliki risiko yang lebih besar untuk terkena penyakit alergi. Penyakit alergi yang sering contohnya adalah alergi makanan, asma, rhinitis alergika (pilek dan bersin berkepanjangan jika terkena udara dingin atau debu), dan dermatitis atopik (eksim / gatal-gatal pada kulit akibat alergi). Saarinen dan Kajosaari (1995) melakukan penelitian dengan memantau kondisi 150 bayi sejak lahir hingga usia 17 tahun, dan menemukan bahwa ASI dapat mencegah timbulnya alergi, baik alergi makanan, eksim, maupun alergi pernapasan, selama masa kanak-kanak dan remaja.

Sebelum usia 6-9 bulan, usus bayi mudah ditembus protein asing, dapat diandaikan seperti kain kasa yang berlubang-lubang, jika kita taburi tepung atau gula pasir ke atasnya, dengan mudah bahan-bahan ini menembus permukaan kain kasa tersebut. ASI mengandung sel antibodi sIgA dalam jumlah tinggi, antibodi jenis inilah yang berperan melapisi permukaan usus bayi, sehingga menjadi lebih rapat dan tidak mudah ditembus protein asing. Protein susu sapi merupakan alergen (bahan penyebab alergi) yang paling sering menimbulkan reaksi pada bayi. Protein dalam susu sapi yang sering memicu alergi mencakup laktoglobulin, kasein, albumin serum sapi, dan laktalbumin. Selain mengandung imunoglobulin, ASI juga mengandung oligosakarida, sitokin, glikoprotein, LCPUFA, lisozim, nukleotida, dan komplemen. Bahan-bahan ini dapat mengendalikan reaksi tubuh terhadap bahan asing, sehingga tidak muncul reaksi yang berlebihan.

Gejala alergi dapat berupa muntah, diare, kolik, bahkan keluarnya BAB darah (baik yang tampak jelas berupa darah segar, maupun darah samar yang dibuktikan oleh pemeriksaan mikroskopik). Pada bayi dapat pula timbul gejala pada saluran napas berupa pilek,batuk, dan asma, maupun gejala kulit berupa eksim atau kaligata. Pada alergi, antibodi yang berperanan adalah IgE. Antibodi ini teraktivasi oleh adanya protein asing, dan hanya diperlukan 1x kontak untuk membuat IgE teraktivasi. Pada kontak selanjutnya, sel imunitas tubuh kita sudah memiliki memori secara spesifik terhadap protein tersebut dan akan memicu timbulnya reaksi yang sama, terus menerus. Konsumsi ASI secara eksklusif membantu pematangan “pelapis usus” dan menghalangi masuknya molekul pemicu alergi sehingga IgE tidak teraktivasi,sampai kelak bayi sudah berusia lebih dari 6 bulan dan sel imunitasnya sudah berfungsi dengan lebih sempurna. Penelitian Furukawa dkk (1994) menemukan bahwa bayi dengan susu formula memiliki kadar IgE yang lebih tinggi daripada bayi ASI, sehingga lebih mudah terkena penyakit alergi.

Pencegahan Alergi Makanan Pada Bayi
Bisakah bayi ASI terkena alergi? Bisa. Hal ini biasanya disebabkan oleh bahan pemicu alergi yang dikonsumsi oleh ibu, sehingga terdapat pula di dalam ASI dan diterima oleh bayi. Bahan makanan pemicu tersering adalah protein susu sapi dalam ASI, karena ibu mengkonsumsi produk yang mengandung susu sapi. Pada kasus kecurigaan alergi akibat protein susu sapi di dalam ASI, ibu dapat dianjurkan untuk berpantang semua produk yang mengandung susu sapi selama 7-10 hari, dan melihat responnya pada bayi. Jika tidak ada perbaikan, ibu dapat mulai mengkonsumsi produk susu kembali, karena berarti bukan ini penyebabnya. Selain susu sapi, bahan makanan lain yang dapat menyebabkan alergi adalah telur, tepung terigu, kacang-kacangan, jagung, makanan laut, buah-buahan yang mengandung sitrus (jeruk, lemon, fruit punch, dll) dan tomat. Alergi memang merupakan penyakit yang kompleks, karenanya diperlukan konsultasi dengan ahlinya untuk membantu menentukan pola makan Ibu. Jangan sampai karena berpantang dari semua jenis makanan yang diduga pemicu, Ibu akhirnya hanya makan nasi putih saja sehingga asupan gizi tidak seimbang.

Berikut adalah anjuran berdasarkan Evidence Based Medicine (EBM) terbaru untuk mencegah alergi makanan pada bayi:
  • Untuk semua bayi:
    • Aplikasikan pola makan sehat dan seimbang bagi ibu selama hamil dan menyusui, termasuk berbagai jenis makanan yang berpotensi alergenik.
    • ASI eksklusif adalah nutrisi terbaik untuk bayi selama 6 bulan pertama kehidupannya.
    • Pemberian suplementasi susu selain susu sapi formula standar, termasuk susu berbahan dasar kedelai, susu kambing, domba, rice-milk, dan lain sebagainya, tidak direkomendasikan karena belum terbukti efektifitasnya dalam menurunkan risiko alergi pada bayi.
    • Penyapihan sebaiknya tidak dilakukan sebelum usia minimal 17 bulan.
    • Mulailah MPASI selagi bayi masih menerima ASI, sebaiknya pada usia 6 bulan.
    • Pemberian MPASI terlalu dini meningkatkan risiko alergi pada bayi, kalaupun diperlukan pemberian makanan bayi pada usia 4-6 bulan haruslah dari bahan makanan dengan potensi alergi rendah.
    • Pemberian MPASI terlalu lambat dapat mengganggu pertumbuhan dan perkembangannya, serta menghambat proses pengenalan berbagai jenis makanan sehingga akan meningkatkan risiko terjadinya alergi.
    • Pada usia 12 bulan bayi sebaiknya telah menerima semua jenis makanan yang cocok untuk usianya, termasuk bahan-bahan yang berpotensi alergi.
    • Hindari paparan asap rokok selama hamil dan setelah bayi lahir.
    • Selama hamil dan menyusui, minimalkan penggunaan obat antimual, obat golongan NSAID, dan parasetamol.
  • Untuk bayi dengan riwayat alergi pada keluarganya:
    • Jangan berikan susu sapi formula standar selama 4-6 bulan pertama, jika diperlukan, alternatif yang direkomendasikan adalah susu formula hidrolisat parsial atau total. Formula jenis ini diberikan sampai usia 4-6 bulan, atau sampai bayi menerima susu sapi dalam bentuk lain pada MPASI nya.
    • Saat memperkenalkan bahan makanan alergenik, seperti gandum, telur, dan susu, mulailah dari jumlah sedikit (misalnya setengah sendok teh), dan satu jenis saja setiap kalinya.
    • Hindari pemaparan terhadap tungau debu rumah (house dust mite) dengan menjaga kebersihan kamarnya dan melapisi tempat tidurnya dengan seprai tahan-air.
Sudah terbukti bahwa ASI membantu menurunkan risiko alergi pada bayi, di samping berjuta manfaat lainnya. Jadi, masih perlukah bertanya apakah ASI yang terbaik untuk bayi? Definitely not. It is the best for the baby and the whole family.
Selamat menyusui, salam ASI!

Referensi :
  • Riordan J,Wambach K. Breastfeeding and Human Lactation, 4th edition. Jones and Bartlett Publishers,2010.
  • Handout #2 Colic in the breastfed baby, written by Jack Newman MD,FRCPC, 2003
  • Grimshaw K. Food Allergy Prevention. Current Allergy & Clinical Immunology, March 2012 Vol 25, No.1.
sumber : AIMI-ASI

22 August 2014

Standar Emas Makanan Bayi

sebagai orang tua sewajarnya kita mau memberi yang terbaik untuk anak. setelah memberikan ASI Eksklusif selama 6 bulan, lanjutkan dengan pemberian makanan pendamping ASI atau yang biasa disingkat MPASI. namun, ASI tetap diteruskan sampai 2 tahun atau lebih yah buun ;) berikut ini saya lampirkan 4 Standar Emas Makanan Bayi oleh WHO :
  • Inisiasi Menyusu Dini dan Rawat Gabung 
Kenapa ini penting? Karena IMD memungkinkan bayi mendapatkan manfaat dari kontak kulit pertama dengan ibu, dimana bayi akan terpapar bakteri baik dari ibu yang TIDAK BERBAHAYA dan bakteri tersebut kemudian membentuk koloni dalam usus bayi yang bertugas memerangi bakteri lainnya yang jahat.

Dengan IMD, bayi akan mendapatkan kolostrum (liquid gold) yang mengandung zat kekebalan terutama IgA yang berfungsi melindungi bayi dari berbagai penyakit infeksi terutama diare. IMD membantu memantapkan insting menyusu pada bayi dan pelekatan mulut bayi pada payudara sehingga dapat meningkatkan berat badan bayi secara maksimal. IMD juga dapat mengurangi tingkat kematian bayi hingga 22%.
Rawat gabung penuh selama 24 jam sehari diperlukan untuk memastikan proses menyusui dimulai secara optimal. Dengan rawat gabung, ibu bisa beristirahat sambil tetap menyusui sesuai keinginan bayi, sehingga mencegah pemberian cairan prelakteal. Rawat gabung juga membuat bayi lebih tenang. Bayi yang sering terlanjur menangis akan lebih mudah menolak payudara walaupun lapar
  • ASI Eksklusif hingga 6 bulan
ASI eksklusif adalah menyusui bayi tanpa memberi asupan/tambahan apapun selain ASI, bahkan tidak juga air putih.

Kenapa harus ASI eksklusif selama 6 bulan pertama? Karena kalori dari ASI memenuhi 100% kebutuhan bayi yang terdiri dari karbohidrat, protein, lemak, vitamin, mineral, air, garam, gula dan semua zat gizi yang dibutuhkan oleh tubuh bayi. Selain itu ASI mengandung zat hidup yang tidak dapat ditiru oleh cairan manapun, seperti sel darah putih (antiinfeksi), enzim pencernaan, dan hormon pertumbuhan. 
  • MPASI Berkualitas sejak 6 bulan
Yang dimaksud MPASI berkualitas adalah makanan buatan rumah yang memenuhi kebutuhan energi dan nutrisi bayi, dari bahan baku lokal dan harga terjangkau.

Mengapa? Karena saat bayi berusia 6-12 bulan ASI memenuhi 70% kebutuhan kalori bayi, sehingga bayi butuh tambahan dari asupan lain. Sangat dianjurkan untuk memberikan MPASI buatan sendiri karena lebih mampu menjaga kandungan gizi alami, mikronutrien serta bioavalabilitas makanan.

  • ASI Diteruskan sampai 2 tahun atau lebih 
Kenapa pemberian ASI diteruskan setelah anak berusia setahun? Karena meskipun jumlah kalori diberikan oleh ASI hanya sekitar 30% namun zat immun yang diberikan dari ASI justru meningkat. Zat ini berfungsi meningkatkan daya tahan tubuh bayi. Meningkatnya zat immun adalah sesuai dengan kebutuhan anak, dimana anak pada usia ini sudah lebih banyak aktivitas dan interaksi dengan lingkungan, sehingga rawan infeksi kuman. 
Semoga bermanfaat untuk pembaca ;) sumber tulisan dari AIMI